Masyarakat Multikultural - Sosiologi (Soshum) SBMPTN
A. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK MASVARAKAT MULTIKULTURAL
a. Pengertian Masyarakat Multikultural
Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang anggotanya terdiri atas berbagai golongan, suku, etnis, ras, agama, dan budaya. Menurut Pierre L. van den Berghe karakteristik keberagaman tersebut, antara lain:
- terjadi segmentasi ke dalam kelompok,
- memiliki struktur sosial yang terbagibagi,
- kurang mengembangkan konsesus,
- sering terjadi konflik,
- integrasi sosial tumbuh di atas paksaan, dan
- adanya dominasi politik.
b. Karakteristik Masyarakat Multikultural di Indonesia
- Terdiri atas ratusan kelompok suku besar dengan budaya dan bahasa yang khas.
- Memiliki semangat hidup berdampingan dengan semboyan negara "Bhinneka Tunggal lka" (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua).
- Toleransi dan menghargai perbedaan dikembangkan dengan baik, namun konflik antarsuku atau antar-umat tetap terjadi di beberapa daerah.
- Masyarakat bermoral dan mengembangkan empati sesama warga negara, meskipun bertempat tinggal tersebar di berbagai pulau.
- Demokrasi dijalankan terstruktur dalam ideologi bangsa dan pelaksanaannya menyeluruh hingga ke pelosok negeri.
- Pelaksanaan gotong royong, pemilu, pembentukan paguyuban, dan koperasi menjadi nilai-nilai hidup bersama di dalam masyarakat.
B. FAKTOR PENDORONG MULTIKULTURALISME
a. Keadaan Geografis
Kondisi geografis dipengaruhi oleh letak daratan atau pulau-pulau yang terpisah. Masyarakat kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda di tiap daerah.
b. Kondisi lklim
Perbedaan kondisi iklim, seperti curah hujan dan kesuburan tanah merupakan kondisi yang menciptakan berbagai lingkungan ekologis. Hal tersebut dapat menyebabkan perbedaan dalam bidang kependudukan, ekonomi, dan sosial budaya.
c. lntegrasi Nasional
Multikulturalisme tidak hanya bermakna keanekaragaman, namun juga kesederajatan antar-perbedaan yang ada. Dengan demikian, multikulturalisme dapat dicapai dengan integrasi sosial atau integrasi nasional. Terciptanya integrasi nasional masyarakat multikultural tersebut dipengaruhi oleh faktor berikut.
- Adanya interseksi dan konsolidasi pada struktur sosial.
- Berkembangnya paham relativisme kebudayaan.
- Terlaksananya koalisi lintas etnis/kelompok.
- Mampu membangun konsensus tentang nilai dasar.
- Berlangsungnya proses akulturasi budaya majemuk.
- Hilangnya sifat dominan dan tumbuhnya upaya saling ketergantungan antarkelompok.
C. HAMBATAN KONSEP MULTIKULTURALISME
Hambatan yang harus dihadapi setiap kelompok dalam menjunjung konsep multikulturalisme atau membentuk dan mempertahankan masyarakat multikultural sebagai berikut.
a. Primordialisme
Primordialisme merupakan pandangan atau paham yang menunjukkan sikap berpegang teguh pada hal-hal yang sejak semula melekat pada individu. Karakteristik dari primordialisme sebagai berikut.
- Kecintaan yang sangat dalam terhadap segala sesuatu yang pernah dialami sejak lahir hingga dewasa.
- Sikap loyalitas yang berlebihan terhadap budaya subnasional (suku bangsa, agama, ras, daerah, dan keluarga).
- Keterkaitan seseorang dalam kelompok atas dasar ikatan kekerabatan, suku bangsa, asal daerah, bahasa, dan adat sehingga melahirkan pola perilaku serta cita-cita yang sama. Misalnya, pandangan patrilineal.
- lkatan tradisional yang melekat pada individu. Misalnya, lkatan Keluarga Dayak, HMI, ICMl,dll.
- Adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh individu/kelompok. Misalnya, anggapan bahwa pluralisme adalah sesuatu yang eksotis.
- Adanya suatu sikap mempertahankan suatu kelompok terhadap ancaman dari luar (orang asing).
- Adanya nilai-nilai yang berhubungan dengan sistem keyakinan, keagamaan, ataupun adat istiadat.
b. Etnosentrisme
Etnosentrisme (fanatisme suku bangsa) merupakan sikapyang menilai kebudayaan kelompok/ masyarakat lain dengan menggunakan ukuran yang berlaku dalam kelompoknya. Suatu sikap yang menilai atau menganggap bahwa kebudayaannya lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain.
c. Politik Aliran
Politik aliran merupakan keadaan perpolitikan partai-partai politik yang ada dikelilingi dan diikuti oleh sejumlah organisasi massa formal/nonformal yang berpegang pada suatu ideologi.
D. TAHAPAN PEMBENTUKAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL
a. Acuan Pendidikan Multikultural
Berikut ini adalah tiga hal dasaryang dapat digunakan sebagai acuan pendidikan multikultural sehingga dapat terbentuk suatu masyarakat multikultural.
- Pengakuan terhadap identitas budaya lain.
- Adat kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam suatu masyarakat.
- Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kelompok-kelompok tertentu di dalam masyarakat.
b. Pemecahan Masalah pada Masyarakat Multikultural
Menurut Bales, terdapat tiga tahapan pemecahan masalah dalam membangun masyarakat multikultural. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut.
- Orientasi: suatu keadaan di mana antar-anggota masyarakat saling memberi suatu informasi.
- Evaluasi: suatu keadaan di mana antar-anggota masyarakat saling membahas informasi dan bertukar pendapat.
- Kontrol: suatu keadaan di mana antar-anggota masyarakat saling menyarankan dan mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang ada.
E. BENTUK KONSEKUENSI DARI MASYARAKAT MULTIKULTURAL
a. lnterseksi
lnterseksi adalah persilangan/pertemuan/titik potong keanggotaan dari dua suku bangsa atau kelompok sosial di dalam suatu masyarakat yang majemuk. Contoh: Abdullah dari Aceh, Joko dari Jawa, Dadang dari Sunda, bertemu bersama-sama dalam organisasi Islam.
b. Konsolidasi
Konsolidasi adalah penguatan atau peneguhan keanggotaan masyarakat dalam kelompok sosial melalui tumpang tindih keanggotaan. Contoh: orang Melayu identik dengan orang Islam, orang Minahasa identik dengan orang Kristen Protestan, dan orang Bali identik dengan orang Hindu.
c. Stereotip
Stereotip adalah persepsi atau prasangka mengenai suatu hal, budaya, atau sifat berdasarkan prasangka subjektif yang belum tentu tepat.
d. Pluralisme dan Nasionalisme
Pluralisme adalah sikap menghargai, menghormati, dan menoleransi berbagai perbedaan dalam hid up bersama dalam masyarakat majemuk. Nasionalisme adalah rasa cinta pada tanah air yang diwujudkan dengan cara mempertahankan identitas bangsa.