Perjalanan Bangsa Indonesia Pasca Kemerdekaan - Sejarah (Soshum) SBMPTN
A. AGRESI MILITER BELANDA I (AMB I)
- Pemerintah Belanda mengultimatum dalam tempo 14 hari agar RI membentuk pemerintahan dan mata uang bersama, RI harus mengirim beras ke daerah yang diduduki Belanda, dan mengawasi ekspor dan impor.
- Pada tanggal 21 Juli 1947, Pemerintah RI menolak ultimatum tersebut. Akhirnya, Belanda menyerang RI dengan Agresi Militer Belanda. PBB turun tangan dengan mengeluarkan resolusi dan akhirnya AMB I berakhir.
- Pada tanggal 27 Agustus 1947, PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri atas Amerika (Frank Graham), Belgia (van Zeeland), dan Australia (Richard Kirby). Efek AMB I membuat negara Mesir mengecam tindakan Belanda dan negara Arab mengakui Indonesia secara de facto.
B. PERUNDINGAN RENVILLE
- Pada tanggal 18 Desember 1947, Perundingan Renville diadakan di Kapal Perang USA, USS Renville. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Amir Syarifudin dan Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL R. AbdulkadirWijoyoatmojo.
- lsi perundingan tersebut adalah sebagai berikut.
- Pemberhentian tembak-menembak di sepanjang garis van Mook.
- Perjanjian peletakan senjata dan pembentukan daerah kosong militer.
C. PEMBERONTAKAN PKI MADIUN
- Karena isi Perundingan Renville begitu merugikan bagi rakyat Indonesia, Amir Syarifudin jatuh dari kabinet dan akhirnya menjadi oposisi pemerintah dengan membentuk Front Demokrasi Rakyat.
- Front itu terbentuk dari fusi Partai Sosialis, Pesindo, Partai Buruh, PKI, dan SOBSI. FDR bertujuan untuk merebut kekuasaan dengan cara menjadikan Solo sebagai daerah wild-wildwest(daerah kacau) dan membunuh tokoh-tokoh yang dianggap musuh.
- FDR menolak kebijakan kabinet Hatta mengenai Rekonstruksi-Rasionalisasi Angkatan Perang.
- FDR dibantu Muso mendirikan RepublikSovietlndonesiayang dikenal dengan Pemberontakan PKI Madiun. Akhirnya, pemberontakan PKI berhasil dipadamkan oleh TNI lewat Gerakan Operasi Militer (GOM) di bawah pimpinan Gatot Subroto. Muso ditembak mati dan Amir Syarifudin dijatuhi hukuman mati.
D. PEMBERONTAKAN DI/TII DI JAWA BARAT
- Berdasarkan perjanjian Renville, TNI yang berada di daerah kantong gerilya harus hijrah ke daerah RI. Akan tetapi, Kartosuwiryo menolak dan tetap bertahan di Jawa Barat.
- Pada tanggal 7 Agustus 1948, Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia atau Darul Islam (DI) dan pasukannya disebutTentara Islam Indonesia (TII).
- Operasi Pagar Betis dan Operasi Barata Yudha dilaksanakan untuk menumpas DI/TII. Kartosuwiryo ditangkap di daerah Gunung Geber.
E. AGRESI MILITER BELANDA II (AMB II)
- Belanda menyatakan tidak terikat lagi dengan Perundingan Renville dan mengadakan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Belanda menduduki Yogyakarta, Presiden-Wakil Presiden ditawan di Bangka dan Parapat.
- TNI mengadakan perjuangan gerilya dan Divisi Ill Siliwangi mengadakan long march dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.
- Pada tanggal 1 Maret 1946, Yogyakarta berhasil direbut kembali selama 6 jam oleh Letkol Soeharto.
- AMB II mendapat reaksi keras dari negara-negara di dunia. Mereka mengadakan konferensi Asia dan disampaikan ke Dewan Keamanan PBB. Kemudian, DK PBB mengeluarkan resolusi yang berisi perintah penarikan tentara Belanda dari Indonesia.
- KTN diubah menjadi United Nation Commision for Indonesia (UNCI).
F. PERUNDINGAN ROEM-ROVEN
- Pada tanggal 7 Mei 1949, Perundingan Roem-Royen diadakan. Indonesia diwakili oleh Muhammad Roem dan Belanda diwakili oleh van Royen.
- Roem Royen menghasilkan keputusan yang intinya Belanda dan Indonesia harus mengikuti Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.
- Setelah Roem Royen selesai, Suoekarno-Hatta kembali ke Yogyakarta.
G. KONFERENSI MEJA BUNDAR
- Pada tanggal 23 Agustus 1949, KMB diadakan di Den Haag. Delegasi Indonesia dipimpin Moh. Hatta, BFO dipimpin Sultan Hamid II, dan Belanda dipimpin oleh Mr. Maarseveen. Penengah dari UNCI adalah Chritchey.
- Perundingan berlangsung alot dan akhirnya menghasilkan keputusan, yaitu:
- Rencana penyerahan kedaulatan RIS dari Belanda.
- Pembentukan APRIS dengan TNI sebagai intinya dan pembubaran KNIL.
H. KABINET PASCAKEMERDEKAAN (KABINET RI PERIODE 1945-1949)
- Kabinet Presidensil: Perdana menteri Ir. Soekarno.
- Kabinet Syahrir: Perdana menteri Syahrir, jatuh karena kekecewaan perundingan Linggarjati.
- Kabinet Amir Syarifudin: Perdana menteri Amir Syarifudin, jatuh karena kekecewaan perundingan Renville dan pertentangan partai politik (Masyumi dan PNI).
- Kabinet Hatta I: Perdana menteri Mohammad Hatta. Hatta ditawan belanda pada AMB II dan pemerintahan didelegasikan kepada Syafrudin Prawiranegara.
- Kabinet Darurat (Syafrudin Prawiranegara): menggantikan sementara Kabinet Hatta karena AMB II. Dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
- Kabinet Hatta II: melanjutkan pemerintahan setelah dikembalikan Belanda. Sukses mengadakan Konferensi Meja Bundar.
I. KEBIJAKAN EKONOMI PASCAKEMERDEKAAN
- Pada tanggal 1 Oktober 1945, pemerintah mengakui tiga macam uang, yaitu:
- Mata uang De Javasche Bank
- Mata uang Hindia Belanda
- Mata uang Jepang
- Pada tahun 1946, Belanda melakukan blokade laut Indonesia dengan tujuan untuk menghancurkan ekonomi Indonesia. Indonesia terdesak dan Ir. Surachman mengeluarkan kebijakan pinjaman nasional sebanyak 1 miliar.
- Pemerintah RI mengeluarkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) pada 6 Maret 1946.
- Pada tanggal 5 Juli 1946 pemerintah membentuk Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank sirkulasi.
- Shomin Ginko berubah menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI).
- Pemerintah mendirikan Banking and Trading Corporation (BTC) untuk urusan ekspor dan impor dengan perusahaan Amerika Serikat, lsbrantsen.
- Menteri kemakmuran, A.K. Gani, membentuk Badan Perancang Ekonomi pada 19 Januari 1947.
- I.J. Kasimo merencanakan kegiatan ekonomi 5 tahun (Plan Kasimo) yang berisi penanaman bibit unggul dan pencegahan penyembelihan hewan pertanian.
- Menteri Keuangan RIS, Mr. Syafrudin Prawiranegara, melakukan pemotongan mata uang yang disebut kebijakan Gunting Syafrudin pada tanggal 19 Maret 1950.
- Gerakan Benteng dicetuskan untuk melindungi usaha pribumi dengan memberikan pinjaman kepada 700 pengusaha pribumi.
- Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia.
- Sistem Ali Baba dikeluarkan oleh Mr. lskaq Tjokrohadisuryo yang menekankan kemitraan antara pengusaha pribumi dan nonpribumi.
- Pada tahun 1957, pemerintah melakukan nasionalisasi perusahaan Belanda. Perusahaan yang dinasionalisasi antara lain KPM menjadi Pelni.
- Bulan Desember 1958, pusat lelang tembakau Indonesia pindah dari Amsterdam ke Bremen. Selain itu, terjadi nasionalisasi perusahaan Belanda.
- Deklarasi ekonomi (Dekon) sebagai usaha perbaikan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin dicetuskan pada tanggal 28 Maret 1963.
J. DEMOKRASI LIBERAL
a. Pasca-KMB
- Bubarnya RIS dan Kabinet Natsir (6 September 1950 - 21 Maret 1951)
Pada tanggal 17 Agustus 1950, Mosi Integral Natsir diterima oleh parlemen. RIS bu bar dan Indonesia kembali menjadi NKRI.
Natsir diangkat oleh parlemen menjadi PM. Kabinet Natsir adalah kabinet koalisi yang dipimpin oleh Masyumi. - Kabinet Sukiman Suwiryo (27April 1951 - 3 April 1952): menandatangani Mutual Security Act dari AS sehingga kabinet harus mundur.
- Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 3 Juni 1953) atau Zaken Kabinet
Terjadi peristiwa "kemarahan militer" 17 Oktober 1952. Moncong meriam diarahkan ke lstana Negara menuntut dibubarkan parlemen. Latar belakang peristiwa ini adalah reformasi dan reorganisasi angkatan perang yang dilakukan parlemen sehingga ada pemangkasan anggaran untuk TNI.
Peristiwa Tanjung Morawa saat polisi menembak mati 5 petani ilegal yang menjarah kebun milik asing. Peristiwa ini didalangi oleh PKI dan menyebabkan Wilopo turun. - Kabinet Ali Sastroamijoyo I (31 Juli 1953 - 12 Agustus 1955)
Kabinet koalisi NU dan PNI, sedangkan Masyumi menjadi oposisi.
Kabinet ini berhasil mengadakan Konferensi Asia Afrika.
Pertikaian NU dan PNI mengakibatkan kabinet ini bubar. - Kabinet Burhanudin Harahap (12 Agustus 1955 - 3 Maret 1956)
Kabinet ini adalah kabinet dari Masyumi.
Kebijakannya adalah pembubaran Uni-Indonesia Belanda.
Keberhasilannya adalah mengadakan Pemilu pada tahun 1955.
Kabinet ini bubar karena hilangnya dukungan di parlemen. - Kabinet Ali Sastroamijoyo II (20 Maret 1956 - 14 Maret 1957)
Kabinet ini adalah koalisi tiga besar Masyumi, NU, dan PNI.
Program kabinet adalah perjuangan membebaskan lrian Barat dan melaksanakan politik bebas aktif.
Masyumi menarik diri dari kabinet sehingga kabinet ini mundur pad a 14 Maret 1957. - Kabinet Juanda (9April 1957- 10Juli 1959)
Pada tanggal 30 November 1957, terjadi peristiwa Cikini. Usaha pembunuhan Presiden Soekarno lewat lemparan granat di Sekolah Perguruan Cikini. Kolonel Zulkifli Lubis terlibat dalam usaha pembunuhan ini dan PRRI berada di balik peristiwa ini.
Amerika Serikat diindikasikan terlibat membantu PRRI. Pilot AS bernama Allen Pope berhasil ditangkap setelah kapalnya ditembakjatuh AURI.
Programnya adalah pancakarya (membentuk dewan nasional, normalisasi keadaan republik, pembatalan KMB, perjuangan lrian Jaya, menggiatkan pembangunan).
Pada tanggal 13 Desember 1957, Deklarasi Juanda diadakan untuk mengganti batas wilayah laut yang dibuat pemerintah Belanda yang disebut territoriale Zee kringen ordonantie tahun 1939. Batas wilayah laut Indonesia adalah 12 mil diukur dari titik terluar pulau.
b. Media Cetak Masa Demokrasi Liberal
- Harian Rakyat (Partai Komunis Indonesia)
- Pedoman (Partai Syarikat Islam)
- Suluh Indonesia (Partai Nasional Indonesia)
- Harian Abadi (Masyumi)
K. DEMOKRASI TERPIMPIN
a. Peristiwa Penting Masa Demokrasi Terpimpin
- Dekret Presiden
Kekacauan melanda Indonesia sehingga Presiden Soekarno mengajukan gagasan Konsepsi Presiden yang berisi pembentukan Kabinet Gotong Royong dan Dewan Nasional yang terdiri atas wakil semua partai termasuk PKI dan golongan fungsional (Golongan Karya).
Konstituante gagal membentuk UUD yang baru karena pertentangan ideologi. Pada tanggal 5 Juli 1959, Dekret Presiden dikeluarkan dan berisi:- Pembubaran konstituante
- Berlakunya UUD 45 dan tidak berlakunya UUDS 1950
- Pembentukan DPAS dan MPRS.
- Kebijakan Demokrasi Terpimpin
MPRS diangkat tidak lewat pemilu tetapi ditunjuk oleh Presiden. Anggota harus menyetujui UUD 45 dan Manifesto Politik, yaitu pidato kenegaraan presiden tanggal 17 Agustus 1656 yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita. Kebijakan yang dikeluarkan adalah GBPNB dan pengangkatan Presiden Soekarno seumur hidup. BPS dibentuk dan diketuai Soekarno.
Kabinet Kerja dibentuk oleh Soekarno dengan Perdana Menteri Soekarno.
Front Nasional dibentuk untuk penyelesaian lrian Barat dan pembangunan semesta nasional PKI menguasai lewat lembaga ini.
Konfrontasi dengan Malaysia dengan dikeluarkannya Dwikora karena memproklamasikan Federasi Malaysia tanggal 16 September 1963 Malaya. Dwikora berisi poin berikut:- Perhebat ketahanan Revolusi Indonesia.
- Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaysia Singapura Sa bah Serawak dalam menggagalkan negara boneka Malaysia.
- Gagalkan pembentukan negara Papua buatan Belanda.
- Kibarkan sang merah putih di lrian Barat.
- Bersiaplah mobilisasi umum.
- Penyimpangan Demokrasi Terpimpin untuk kebijakan dalam negeri
- Pembentukan Nasakom
- Pembubaran DPR hasil Pemilu '55
- Pimpinan DPR-GR, DPAS, MPRS diangkat menjadi menteri
- Pengangkatan presiden seumur hidup
- Penyebarluasan ajaran Nasakom
- Pengangkatan anggota DPR-GR dan MPRS sepihak oleh Soekarno.
- Penyimpangan demokrasi terpimpin untuk kebijakan luar negeri
Penyelenggaraan politik konfrontasi dengan membentuk Oldefo (Old Established Forces) yang terdiri atas negara kapitalis (AS, lnggris, Australia, dan sekutunya) dan Nefo (New Emerging Forces) yang terdiri atas negara revolusioner dan komunis, RI termasuk Nefo Politik mercusuar dengan membangun Senayan, Monas, Jembatan Ampera, Penyelenggaraan Ganefo untuk menyaingi Olimpiade, Pembentukan poros Jakarta-Peking Pada tanggal 7 Januari 1965, Indonesia keluar dari PBB.
b. Pertentangan Kebudayaan
Lekra yang dikomando oleh Pramoedya Ananta Toer ingin menyebarkan paham komunis dengan mendominasi kegiatan budaya di Indonesia. Manifesto kebudayaan atau manikebu dibentuk oleh Rendra, Taufik Ismail, dan H.B. Yasin untuk menghalang upaya Lekra.
L. PEMBERONTAKAN MASA DEMOKRASI LIBERAL DAN TERPIMPIN
a. Pemberontakan DI/TII
- DI Tl/ Jawa Barat (1948 - 1962)
- Pemimpin: Kartosuwiryo
- Penyebab: kekecewaan terhadap Perjanjian Renville sehingga Laskar Hizbullah dan Sabilillah menolak hijrah ke Jawa Tengah
- Tujuan: memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia
- Operasi penumpasan: Operasi Pagar Betis dan Operasi Barata Yudha
- DI/Tl/ Jawa Tengah
- Pemimpin: Amir Fattah (Majelis Islam) dan Kyai Sumolangu (Angkatan Umat Islam)
- Penyebab: pengurangan divisi tentara (demobilisasi tentara)
- Tujuan: mendirikan Negara Islam Jawa Tengah
- Operasi penumpasan: Operasi Banteng Raider
- DI/Tl/ Sulawesi Selatan (1950 - 1965)
- Pemimpin: Kahar Muzakar
- Penyebab: demobilisasi tentara (pengurangan jumlah tentara)
- DI/Tl/ Kalimantan Se/atan (1950 - 1960)
- Pemimpin: lbnu Hajar
- Penyebab: demobilisasi tentara lbnu Hajar membentuk Kesatuan Rakyat Indonesia yang Tertindas
- DI/Tl/ Aceh (1953 - 1959)
- Pemimpin: Datuk Berau
- Penyebab: ketidakpuasan status Aceh yang menjadi bagian provinsi Sumatera Utara
- Penyelesaian: musyawarah rakyat Aceh sehingga Aceh diberikan otonomi yang luas kepada rakyat Aceh dalam bidang Agama dan hukum adat.
b. Pemberontakan Unsur KNIL
- Pemberontakan APRA (1949 - 1950)
- Pemimpin: Raymond Westerling
- Dalang: Sultan Hamid II
- Penyebab: kekhawatiran pembubaran negara Pasundan, dukungan terhadap sistem federal, dan melindungi aset ekonomi Belanda
- Berhasil menewaskan 80 TNI termasuk Letkol Lem bong.
- Pemberontakan Andi Azis
- Pemimpin: Andi Azis
- Penyebab: penolakan penggabungan TNI dan unsur eks-KNIL, serta penolakan kedatangan pasukan TNI ke Makassar
- Penumpasan dipimpin oleh Kolonel Kawilarang
- RMS
- Pemimpin: Dr. Soumokil
- Penyebab: penolakan negara kesatuan dan memproklamasikan RMS
- Penumpasan oleh Divisi Siliwangi (Alex Kawilarang) dan Letkol Slamet Riyadi gugur
c. Pemberontakan PRRI Permesta
- Pemberontakan PRRI (1956 - 1961)
- Pemimpin: Ahmad Husein
- Latar belakang: kesenjangan pusat dan daerah
- Dibentuknya Dewan Banteng (Ahmad Husein), Dewan Gajah (Maludin Simbolon), dan Dewan Garuda (Barlian)
- Diproklamasikan PRRI dengan PM Syafrudin Prawiranegara
- Operasi penumpasan: Operasi Tegas (dipimpin Kaharudin Nasution), Operasi 17 Agustus (Ahmad Yani), Operasi Sapta Marga (Jatikusumo), dan Operasi Sadar (lbnu Sutowo)
- Pemberontakan Permesta (1957 - 1961)
- Pemimpin: Ventje Sumual dan DJ Somba
- Latar belakang: kesenjangan ekonomi pusat dan daerah
- Diselesaikan dengan Operasi Merdeka (Rukminto Hendraningrat)