Perjalanan Bangsa Indonesia Masa Islam - Sejarah (Soshum) SBMPTN
A. KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA
a. Teori Gujarat
Menurut para ahli, Islam masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat sekitar abad ke-13 M atau abad ke-7 H. Gujarat terletak di India bagian barat sehingga dekat dengan Laut Arab dan strategis untuk perdagangan timur dan barat. Menurut C. Snouck Hurgronje, pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam berdagang ke dunia timur sehingga Islam juga tersebar ke Indonesia. Sumber pendukung pendapat tersebut adalah batu nisan milik Sultan Malik Al• Saleh (1297 M) dan Maulana Malik Ibrahim (1419 M) yang berbentuk dan berkaligrafi sama dengan yang ada di Kambay, Gujarat.
b. Teori Persia
Menurut Hoesein Djajadiningrat, Islam masuk ke Indonesia berasal dari Persia. Pendapatnya didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia. Tradisi tersebut, antara lain peringatan hari Asyuro (10 Muharam) oleh kaum Syiah di Persia atas kematian Husein bin Ali, sebagaimana tradisi Tabot di Sumatra Barat dan Bengkulu.
c. Teori Arab
Menurut Buya Hamka, Islam berasal dari tanah kelahirannya, yakni Arab atau Mesir. Proses ini terjadi pada tahun ke-7 M atau abad ke-1 H. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Anthony H. Jones, yakni Islam dikenalkan dan disebarkan oleh para musafir dari Arab.
B. SALURAN PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA
Proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia berlangsung bertahap dan damai. Berikut ini adalah saluran-saluran penyebaran Islam.
a. Saluran Perdagangan
Perkembangan lalu lintas laut abad ke-7 hingga ke-16 M menyebabkan Indonesia menjadi tujuan dan tempat singgah para pedagang muslim. lnteraksi antara para pedagang tersebut dengan penduduk kemudian menyebabkan mereka tertarik untuk mempelajari ajaran dan kebudayaan Islam.
b. Saluran Pernikahan
Para pedagang muslim banyak yang menetap cukup lama di Indonesia. Mereka kemudian menikahi wanita pribumi yang telah masuk Islam terlebih dahulu. Perilaku para pedagang muslim yang baik dan bersahaja bahkan membuat mereka dapat menikahi putri bangsawan atau putri raja setempat. Melalui pernikahan, Islam masuk ke pusat pemerintahan sehingga mempercepat penyebarannya di kalangan rakyat. Pada masa lalu, jika adipati/raja telah masuk Islam maka rakyatjuga akan mudah diajak masuk Islam. Contohnya adalah pernikahan Maulana Ishak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan Sunan Giri.
c. Saluran Tasawuf
Tasawuf adalah ajaran atau cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Para ahli tasawuf biasanya memiliki keahlian yang dapat membantu masyarakat, seperti penyembuhan penyakit. Kepercayaan penduduk kepada mereka kemudian digunakan untuk menjelaskan Islam sesuai dengan pola pikir rakyat sehingga lebih mudah dimengerti. Akibatnya, penduduk kemudian masuk Islam tanpa ada paksaan. Tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia, antara lain Hamzah Fansyuri, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Panggung.
d. Saluran Pendidikan
Penyebaran ajaran Islam melalui saluran pendidikan dilakukan dalam pesantren-pesantren. Para santri belajar agama Islam dari para kiai atau ulama. Setelah lulus belajar, mereka kemudian pulang ke kampung ha la man dan menyebarkan ajaran Islam yang telah diterimanya selama di pesantren. Keilmuan yang dimiliki oleh para kiai dan ulama kemudian menjadikan mereka penasihat kerajaan sehingga Islam menyebar luas di lingkungan keluarga kerajaan. Contohnya Kiai Ageng Sela yang menjadi guru dari Jaka Tingkir.
e. Saluran Seni Budaya
Islam juga dikenalkan melalui saluran seni budaya, seperti pertunjukan wayang yang disisipi nilai-nilai Islam. Melalui wayang, masyarakat lebih mudah memahami ajaran Islam. Salah satu tokoh yang menggunakan saluran ini adalah Sunan Kalijaga dan Sunan Panggung. Media dakwah melalui wayang misalkan ceritanya tetap dari Mahabharata dan Ramayana, namun diselipkan pahlawan Islam. lslamisasi juga dilakukan melalui sastra, seperti Kitab Primbon oleh Sunan Bonang dan berbagai kitab tasawuf dan babad.
C. KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM
a. Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia, yakni sekitar abad ke-13 M. Kerajaan ini terletak di dekat Lhokseumawe, Aceh. Sumber sejarah kerajaan, seperti Kitab Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai menyebutkan bahwa pemimpin pertama mereka adalah Sultan Malik Al-Saleh (1267 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan yang maju di bidang politik, ekonomi, dan perdagangan sehingga berperan penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Selain memiliki hubungan perdagangan dengan Cina dan Timur Tengah, Samudera Pasai memperkuat hubungannya dengan Kesultanan Malaka melalui pernikahan.
b. Kesultanan Malaka (1400-1 S 11)
- Letak geografis dan sistem pemerintahan
Kesultanan Malaka terletak di Semenanjung Melayu dengan wilayah kekuasaannya meliputi Selat Malaka dan Sumatra bagian barat. Meskipun pengaruh Islam sangat kuat, kesultanan ini tidak menerapkan pemerintahan Islam sepenuhnya. Administrasi Sultan Malaka dibantu oleh beberapa pembesar, antara lain Para Menteri, Laksamana, Benda hara, Tumenggung (bupati), Penghulu Bendahari, dan Syahbandar (kepala pelabuhan/ panglima pangkalan). - Sumber sejarah
- Sulalatus Salatin: karya tulis dalam abjad Jawi dan bahasa Melayu yang mirip babad. Babad ini menyatakan bahwa Kesultanan Malaka merupakan lanjutan dari Kerajaan Melayu di Singapura. Melalui kekuatan armada laut dan letaknya yang strategis, Kesultanan Malaka menjadi kota pelabuhan dan pusat perdagangan di jalur Selat Malaka. Hasil buminya yang terkenal adalah lada, emas, timah, dan kapur.
- Berita dari Dinasti Ming: pendiri Kesultanan Malaka adalah Parameswara dan gelar sultan dipakai pada tahun 1455. Tercatat bahwa utusan Malaka telah mengunjungi Kaisar Cina sebanyak 29 kali. Hal itu menunjukkan stabilnya diplomasi kesultanan ini.
- Keruntuhan
Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah, ibukota kerajaan diserang oleh Portugis di bawah pimpinan Alfonso D'Albuquerque. Akhirnya pada tanggal 24 Agustus 1511, Malaka jatuh ke tangan Portugis. Sultan Mahmud Syah memindahkan kekuasannya ke Bintan dan menyerang Portugis kembali, namun pada tanggal 23 Oktober 1526 Portugis membumihanguskan Bintan.
c. Kesultanan Demak (1475-1554)
- Letak geografis dan sistem pemerintahan
Demak sebelumnya merupakan kadipaten dari Kerajaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh, Demak menjadi kesultanan Islam pertama dan terbesar di pantai utara Jawa. Menurut cerita rakyat, Raden Patah pendiri Kesultanan Demak adalah keturunan raja terakhir Majapahit, Brawijaya V. Demak berkembang pesat sebagai penghasil beras dan bahan makanan lainnya. Selain itu, bidang maritim Demak sangat maju karena letaknya yang strategis di antara jalur perdagangan Maluku dan Malaka. - Perlawanan terhadap Portugis
Hubungan Demak dengan Malaka dan Samudera Pasai terjalin baik sebelum keduanya jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 dan 1512. Menantu Raden Patah, AdipatiJepara bernama Raden Abdul Qadir bin Yun us (Pati Unus) menyerang Portugis pada Januari 1513, namun mengalami kegagalan. Pada tahun 1521, Pati Unus yang telah menjadi sultan menggantikan Raden Patah memimpin armada gabungan untuk menyerang Portugis. Pati Unus gugur dalam perang tersebut sehingga diberi gelar Pangeran Sabrang Lor. - Masa kejayaan
Sepeninggal Pati Unus, terjadi perebutan takhta Demak antara kedua adiknya, Raden Trenggana dan Raden Kikin. Raden Kikin (Pangeran Sekar Seda ing Lepen) kemudian dibunuh oleh utusan anak Raden Trenggana, yakni Sunan Prawoto. Raden Trenggana kemudian naik takhta menjadi Sultan Demak Ill bergelar Sultan Ahmad Abdullah Arifin. Pemerintahannya membawa Demak mencapai puncak kejayaan dengan daerah kekuasaan hingga ke Jawa Timur. Pada masa ini pula, adik ipar Sultan Trenggana yang bernama Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Jawa Barat dan Sunda Kelapa (saat ini Jakarta). - Kemunduran dan keruntuhan
Sepeninggal Sultan Trenggana, Kerajaan Demak mengalami krisis politikakibat perebutan kekuasaan. Kronologi krisis tersebut hingga berakhirnya Kesultanan Demak sebagai berikut.- Tahun 1546: Sunan Prawoto menjadi Sultan Demak menggantikan ayahnya, Sultan Trenggana.
- Tahun 1549: Sunan Prawoto dibunuh oleh Arya Penangsang, yakni seorang Adipati Jipang dan putra dari Pangeran Sekar. Arya Penangsang naik takhta sebagai Sultan Demak V. la kemudian mengirim utusan untuk membunuh menantu Sultan Trenggana, yakni Pangeran Kalinyamat di Jepara dan Jaka Tingkir di Pajang. Seorang utusannya berhasil membunuh Pangeran Kalinyamat.
- Tahun 1549: Setelah terbunuhnya Adipati Jepara tersebut, Jaka Tingkir mempersiapkan pemberontakan. Sebagai sesama keluarga Kesultanan Demak, Jaka Tingkir segan membunuh Arya Penangsang. la lalu mengadakan sayembara berhadiah tanah di Mataram dan Pati bagi siapapun yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang.
- Tahun 1554: Ki Pamanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara tersebut. Namun, melalui siasat dari Ki Juru Martani, yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang adalah Danang Sutawijaya, anak dari Ki Pamanahan. Setelah wafatnya Arya Penangsang maka berakhirlah Kesultanan Demak.
- Tahun 1556:Jaka Tingkiryang sebelumnya merupakan Adipati Pajang kemudian naik takhta bergelar Sultan Hadiwijaya. la memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang dan mendirikan Kesultanan Pajang.
d. Kesultanan Aceh (1496-1903)
Kesultanan Aceh terletak di ujung utara Pulau Sumatra dan ibukotanya berada di Banda Aceh. Perekonomian Aceh bertumpu pada pelayaran dan perdagangan karena letaknya yang strategis di dekat Selat Malaka. Komoditas utamanya adalah rempah-rempah, khususnya lada, selain itu juga hasil tambang, seperti timah dan emas. Periodisasi masa pemerintahan dan kehidupan politik Kesultanan Aceh sebagai berikut.
- Sultan Ali Mughayat Syah (1574-1528)
Pendiri Kesultanan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Di bawah pimpinannya, Aceh memperluas kekuasaannya hingga ke Pattani, Thailand. Kerajaan-kerajaan lain, seperti Kerajaan Pidie, Kerajaan Peurelak (Aceh Timur), Kerajaan Daya (Aceh Barat Daya), dan Kerajaan Aru (Sumatra Utara) berhasil ditaklukkan dari Portugis. Selain itu, sultan juga menggempur Portugis hingga terpukul mundur ke India. Sultan Ali Mughayat Syah meletakkan dasar-dasar politik luar negeri sebagai berikut.- Mencukupi kebutuhan sendiri sehingga tidak bergantung dengan pihak luar.
- Menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
- Bersikap waspada terhadap kolonial Barat.
- Menerima bantuan tenaga ahli dari luar.
- Menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara.
- Sultan lskandar Muda (1607-1528)
Kesultanan Aceh mengalami masa kejayaan dipimpin oleh Sultan lskandar Muda. Aceh berhasil menaklukkan Johor dan Malaka sehingga daerah penghasil lada semakin banyak dan perdagangan semakin luas. Sesuai dengan pendahulunya, beliau mengusir Portugis dan tidak menerima permintaan pembelian rempah-rempah oleh Belanda dan lnggris. Pada masa ini, bangsawan Aceh (Uleebalang/hulubalang) tunduk pada sultan, namun hukum adat "Qanun Meukuta Alam AI-Asyi" tetap ditegakkan. Sultan lskandar Muda berhasil menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh hingga akhirnya mangkat dan digantikan oleh menantunya, Sultan lskandarTsani.
Kemunduran Aceh dimulai sejak terjadinya kontlik internal sepeninggal Sultan lskandar Muda dan Sultan lskandarTsani. Keadaan itu semakin rumit dengan adanya serangan dari pihak kolonial, yakni lnggris dan Belanda. Setelah Perang Aceh yang berkepanjangan, Belanda tetap tidak dapat menguasai Aceh. Pada akhir abad ke-19, sarjana Belanda bernama Snouck Hurgronje memahami bahwa kekuatan Aceh bukan pada sultan, namun pada ulama atau uleebalangnya. Berdasarkan informasi tersebut, Belanda mengubah taktik perangnya sehingga dapat menguasai hampir seluruh wilayah Aceh pada tahun 1903. Perang melawan Kesultanan Aceh merupakan perang terlama yang dilalui oleh Belanda, bahkan em pat jenderal Belanda tewas di pertempuran tersebut.
e. Kesultanan Banten (1527--1813)
- Berdirinya Kesultanan Banten
Sejak dikuasainya Malaka oleh Portugis tahun 1511, Selat Sunda menjadi pintu masuk utama para pedagang muslim dan pedagang Eropa untuk berdagang ke Nusantara. Banten yang berada di dekat Selat Sunda kemudian banyak disinggahi pedagang muslim. Hal itu sesuai dengan berita Laksamana Cheng-Ho, Ma Huan, dan Tome Pires bahwa sejak abad ke-15 banyak terdapat komunitas muslim di pantai utara Jawa (pelabuhan Banten). Cucu Prabu Siliwangi yang bernama Syarif Hidayatullah merupakan tokoh penting dalam dakwah Islam di Banten. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati menikah dengan anak pemimpin Banten Pesisir atau Sang Surosowan. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin kemudian mendirikan Kesultanan Banten dan menjadi Sultan Banten I. - Masa kejayaan dan perlawanan terhadap VOC
Pada tahun 1596, Belanda pertama kali memasuki Banten, namun segera diusir akibat perilakunya yang buruk dalam perdagangan. Dua tahun kemudian, Belanda datang kembali dengan mengubah perilakunya, namun lama-kelamaan mereka mulai menimbulkan kekacauan. Banten yang kemudian dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa mulai memerangi mereka. Sultan Ageng meningkatkan armada perang dan membuka Banten sebagai pelabuhan bebas untuk menghalangi monopoli yang dilakukan oleh kongsi dagang Belanda, yakni VOC. - Kemunduran dan keruntuhan
Pada tahun 1603 terjadi perselisihan antara kedua putra Sultan Ageng, yakni Sultan Haji dan Pangeran Purbaya. VOC yang bekerja sama dengan Sultan Haji memanfaatkan perang saudara tersebut untuk menyingkirkan Sultan Ageng. Peperangan yang terjadi kemudian mendesak Sultan Ageng untuk meninggalkan keraton hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Kesultanan Banten kemudian dipimpin oleh Sultan Haji, namun VOC memiliki kekuasaan monopoli lada dan pengangkatan sultan harus meminta persetujuan VOC.
f. Kesultanan Mataram (1588-1681)
- Berdirinya Kesultanan Mataram
Sesuai dengan janjinya, Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang memberikan hadiah tanah di Mataram kepada Ki Pamanahan yang dianggap berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Selain itu, anaknya yang bernama Sutawijaya diangkat anak oleh sultan dan dipersaudarakan dengan putra mahkota, Pangeran Benawa. Raden Sutawijaya yang berkemampuan bagus dalam militer kemudian menggantikan ayahnya sebagai bupati Mataram dengan gelar "Senapati ing Alaga" atau panglima di medan perang (1575). Selanjutnya, Kadipaten Mataram berkembang pesat di bawah pimpinannya. Setelah meninggalnya Sultan Hadiwijaya, terjadi krisis politik di Pajang. Senapati kemudian bersekutu dengan Pangeran Benawa untuk melawan menantu sultan, yakni Arya Pangiri. Peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak Senapati sehingga takhta Pajang dikembalikan kepada Pangeran Benawa. Sepeninggal pangeran, sesuai dengan wasiatnya, Kesultanan Pajang digabungkan dengan Mataram. Senapati kemudian membentuk Kesultanan Mataram, namun sebagai penguasa ia tidak menggunakan gelar sultan melainkan Panembahan Senapati. - Masa kejayaan Mataram
Mataram mencapai puncak kejayaan saat dipimpin oleh Panembahan Hanyakrakusuma atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Agung (1613-1645). Pada masa ini, VOC menaklukkan Jayakarta sehingga menghalangi usaha Sultan Agung menaklukkan Banten dan seluruh Pulau Jawa. Pada tahun 1629, pasukan Sultan Agung menyerang Batavia (Jayakarta) untuk kedua kalinya. Namun, pasukan di bawah pimpinan Adipati Ukur tersebut mengalami kegagalan karena VOC membakar lumbung bahan makanan mereka. Meskipun demikian, pasukan tersebut berhasil mengotori Kali Ciliwung dan menyebabkan wabah kolera. Tentara VOC, bahkan Gubernur Jenderal J.P. Coen tewas karena wabah tersebut. Pada akhir kekuasaan Sultan Agung, seluruh Pulau Jawa sempat tunduk di bawah Kesultanan Mataram, kecuali Blambangan dan Banten-Batavia yang dikuasai VOC. Daerah di luar Jawa yang berhasil ditaklukkan adalah Palembang (Sumatra) dan Sukadana (Kalimatan). Sultan Agung menjadikan Mataram sebagai kesultanan yang hidup dari Islam, pertanian, dan nilai-nilai kebudayaan adiluhung. Peninggalan Sultan Agung lainnya, antara lain Makam Raja-Raja Mataram di lmogiri, Sastra Gending, dan Kalendar Jawa. - Masa kemunduran Mataram
Sepeninggal Sultan Agung, penerusnya yang bergelar Amangkurat I tidak dapat melanjutkan kebesarannya. la memindahkan keraton dari Karta ke Plered, bekerja sama dengan VOC, dan memulai konflik internal di Kesultanan Mataram. Akibatnya, terjadi periode yang disebut Perang Suksesi Jawa 1-111. Selain melibatkan keluarga Mataram dan pemimpin rakyat Jawa lain, seperti Trunajaya dan Untung Surapati, perang tersebut memboncengi VOC yang berniat menguasai seluruh Pulau Jawa. Kesultanan Mataram runtuh saat Amangkurat I wafat dan Keraton Plered diambil alih oleh salah satu anaknya, Amangkurat II. Amangkurat II kemudian memindahkan ibukota dan membangun Kasunanan Kartasura dengan bantuan VOC (sesuai Perjanjian Jepara 1677). - Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga atas daerah kekuasaan Mataram
Berikut ini adalah penjelasan mengenai Perang Suksesi Jawa yang memperebutkan kekuasaan Mataram dalam takhta Kartasura.- Perang Suksesi Jawa I (1704-1708)
Perang ini terjadi antara Amangkurat Ill melawan pamannya, Pangeran Puger, yakni putra mahkota Kesultanan Mataram sebelum saudaranya menjadi Amangkurat II. Perang ini dimenangkan oleh Pangeran Puger sehingga ia kemudian naik takhta bergelar Pakubuwono I. - Perang Suksesi Jawa II (1719-1723)
Perang ini terjadi antara Amangkurat IV (anak Pakubuwono I) melawan adik• adiknya, yakni Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya. Perang ini dimenangkan oleh Amangkurat IV yang dibantu oleh voe. - Perang Suksesi Jawa Ill (1747- 1757)
Pengganti Amangkurat IV, yakni Pakubuwono II memindahkan ibukota Kartasura ke Surakarta akibat peristiwa Geger Pacinan dan serangan Cakraningrat IV, pemimpin Madura yang dibantu oleh VOC. Masa akhir Pakubuwono II ditandai dengan penyerahan kedaulatan Surakarta kepada VOC. Hal itu kemudian memicu perang saudara antara Pakubuwono Ill dengan Pangeran Mangkubumi (pamannya) dan Raden Mas Said (sepupunya dari Pangeran Mangkunegara). Berakhirnya perang tersebut ditandai oleh Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755), di mana wilayah Mataram terbagi menjadi dua. Wilayah sebelah timur dikuasai oleh pewaris Mataram, yakni Pakubuwono Ill dengan tetap berkedudukan di Surakarta. Adapun sebelah barat atau daerah Kesultanan Mataram sebelumnya diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi. Pangeran kemudian membangun Kesultanan Yogyakarta dan menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Raden Mas Said tetap memerangi VOC yang dianggap telah memecah belah Kesultanan Mataram hingga akhirnya berhasil membentuk kadipaten sendiri yang bebas dari VOC sesuai Perjanjian Salatiga (17 Maret 1757). Perjanjian Salatiga membagi wilayah Surakarta menjadi dua, Surakarta bagian utara diberikan kepada Raden Mas Said dengan gelar Adipati Mangkunegaran I (Kadipaten Agung Mangkunegaran), sedangkan bagian selatan tetap dimiliki oleh Pakubuwono Ill (Kasunanan Surakarta).
- Perang Suksesi Jawa I (1704-1708)
D. AKULTURASI KEBUDAYAAN ISLAM DAN INDONESIA
a. Seni Sastra dan Aksara
Seni sastra dipengaruhi oleh sastra Islam dan masa pra-lslam. Beberapa contohnya sebagai berikut.
- Hikayat
Hikayat merupakan karya sastra berisi cerita sejarah ataupun dongeng yang ditulis berbentuk gancaran (karangan bebas/prosa). Pada masa Islam, muncul hikayat yang bercerita tentang para sultan, orang-orang bijaksana, atau cerita rakyat yang berkembang di TimurTengah. Contoh: Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat 1001 Malam, dan Hikayat Bayan Budiman. - Babad
Babad berisi fakta sejarah, mitos, ataupun kepercayaan. Babad biasa disebut tambo atau salasilah di tanah Melayu dan ceritanya berisi kehidupan masyarakat Islam atau pemerintahan kesultanan. Contoh: Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Mataram, dan Babad Surakarta. - Syair
Syair merupakan sajak-sajak yang terdiri atas em pat baris setiap baitnya. Syair berasal dari Arab dan awalnya ditulis di batu nisan. Contoh: batu nisan makam Putri Pasai di Minye Tujoh.
b. Sistem Penanggalan
Rakyat Jawa di bagian pesisir utara menggunakan sistem penanggalan Islam, yakni kalender Hijriah berdasarkan peredaran bulan (komariyah). Kalender Islam digunakan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab di mana 1 Hijriah bertepatan dengan 14 September 622 M. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram menyatukan kalender tersebut dengan kalender Saka yang masih digunakan rakyat Jawa pedalaman. Tahun Saka dan nama-nama bulan Hijriah tetap digunakan, namun beberapa nama bulan diganti dalam bahasa Sansekerta, seperti Muharam diganti Sura dan Ramadhan diganti Pasa. Penyatuan dua sistem penanggalan tersebut membentuk Kalender Jawa Islam yang dimulai pada 1 Muha ram 1043 H atau 1 Sura 1555 Jawa atau 8 Agustus 1633 M.