Materi Online


Perjalanan Bangsa Indonesia Masa Islam - Sejarah (Soshum) SBMPTN



A.  KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA

 

a. Teori Gujarat

Menurut para ahli, Islam masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat sekitar abad ke-13 M atau abad ke-7 H. Gujarat terletak di India bagian barat sehingga dekat dengan  Laut Arab dan strategis  untuk  perdagangan  timur dan  barat.  Menurut C.  Snouck  Hurgronje,  pedagang Gujarat yang telah memeluk  Islam  berdagang  ke dunia timur  sehingga  Islam juga tersebar ke Indonesia. Sumber pendukung  pendapat tersebut adalah batu nisan milik Sultan Malik Al• Saleh (1297 M) dan Maulana Malik Ibrahim (1419 M) yang berbentuk dan berkaligrafi  sama dengan yang ada di Kambay, Gujarat.

 

b. Teori Persia

Menurut Hoesein Djajadiningrat, Islam masuk ke Indonesia berasal dari Persia. Pendapatnya didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang  antara  masyarakat  Persia dan Indonesia. Tradisi tersebut, antara lain peringatan hari Asyuro (10 Muharam) oleh kaum Syiah di Persia atas kematian Husein bin Ali, sebagaimana tradisi Tabot di Sumatra Barat dan Bengkulu.

 

c. Teori Arab

Menurut  Buya  Hamka,  Islam  berasal dari tanah  kelahirannya, yakni Arab atau  Mesir.  Proses ini terjadi  pada tahun  ke-7 M atau abad ke-1 H. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Anthony H. Jones, yakni Islam dikenalkan dan disebarkan oleh para musafir dari Arab.

 

 

B. SALURAN PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA

 

Proses  masuk dan  berkembangnya   Islam  di  Indonesia  berlangsung  bertahap dan damai. Berikut ini adalah saluran-saluran penyebaran Islam.

 

a. Saluran Perdagangan

Perkembangan lalu lintas laut abad ke-7 hingga  ke-16 M menyebabkan  Indonesia menjadi tujuan  dan tempat singgah para pedagang muslim. lnteraksi antara para pedagang tersebut dengan  penduduk  kemudian  menyebabkan  mereka tertarik untuk mempelajari  ajaran dan kebudayaan Islam.

 

b. Saluran Pernikahan

Para pedagang  muslim  banyak yang menetap cukup  lama di Indonesia. Mereka kemudian menikahi  wanita pribumi  yang telah  masuk Islam terlebih  dahulu.  Perilaku para pedagang muslim yang baik dan bersahaja bahkan membuat mereka dapat menikahi putri bangsawan atau putri raja setempat. Melalui pernikahan,  Islam masuk ke pusat pemerintahan sehingga mempercepat  penyebarannya  di  kalangan  rakyat.  Pada  masa lalu, jika  adipati/raja  telah masuk Islam maka rakyatjuga akan mudah diajak masuk Islam. Contohnya adalah pernikahan Maulana Ishak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan Sunan Giri.

 

c. Saluran Tasawuf

Tasawuf adalah ajaran atau cara untuk mendekatkan diri  kepada Tuhan. Para ahli tasawuf biasanya  memiliki  keahlian  yang  dapat  membantu  masyarakat,  seperti  penyembuhan penyakit. Kepercayaan penduduk  kepada mereka kemudian  digunakan  untuk menjelaskan Islam sesuai dengan pola pikir rakyat sehingga lebih mudah dimengerti. Akibatnya, penduduk kemudian  masuk Islam tanpa  ada paksaan. Tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia, antara lain Hamzah Fansyuri, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Panggung.

 

d. Saluran Pendidikan

Penyebaran ajaran Islam melalui saluran pendidikan  dilakukan  dalam pesantren-pesantren. Para  santri  belajar  agama  Islam  dari  para  kiai atau  ulama. Setelah  lulus  belajar,  mereka kemudian pulang ke kampung ha la man dan menyebarkan ajaran Islam yang telah diterimanya selama di pesantren. Keilmuan yang dimiliki  oleh para kiai dan ulama kemudian  menjadikan mereka penasihat kerajaan sehingga Islam menyebar luas di lingkungan keluarga kerajaan. Contohnya Kiai Ageng Sela yang menjadi guru dari Jaka Tingkir.

 

e. Saluran Seni Budaya

Islam juga dikenalkan melalui saluran seni budaya, seperti pertunjukan wayang yang disisipi nilai-nilai Islam. Melalui wayang, masyarakat lebih mudah memahami ajaran Islam. Salah satu tokoh  yang  menggunakan  saluran ini adalah Sunan Kalijaga dan Sunan Panggung. Media dakwah melalui wayang misalkan ceritanya tetap dari Mahabharata dan Ramayana, namun diselipkan pahlawan Islam. lslamisasi juga dilakukan melalui sastra, seperti Kitab Primbon oleh Sunan Bonang dan berbagai kitab tasawuf dan babad.

 

 

C.   KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM

 

a. Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)

Samudera Pasai merupakan  kerajaan Islam tertua di Indonesia, yakni sekitar abad ke-13 M. Kerajaan ini terletak di dekat Lhokseumawe, Aceh. Sumber sejarah kerajaan, seperti Kitab Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai menyebutkan bahwa pemimpin  pertama mereka adalah  Sultan  Malik Al-Saleh  (1267  M). Kerajaan  Samudera  Pasai  merupakan  kerajaan yang maju di bidang politik, ekonomi, dan perdagangan sehingga berperan penting dalam penyebaran  Islam  di Asia Tenggara.  Selain  memiliki  hubungan  perdagangan  dengan  Cina dan Timur Tengah, Samudera Pasai memperkuat hubungannya  dengan  Kesultanan Malaka melalui pernikahan.

 

b. Kesultanan Malaka (1400-1 S 11)

  1. Letak geografis dan sistem pemerintahan
    Kesultanan  Malaka  terletak  di  Semenanjung  Melayu  dengan  wilayah  kekuasaannya meliputi Selat Malaka dan Sumatra bagian barat. Meskipun pengaruh  Islam sangat kuat, kesultanan ini tidak  menerapkan  pemerintahan Islam sepenuhnya. Administrasi Sultan Malaka dibantu oleh beberapa pembesar, antara lain Para Menteri, Laksamana, Benda hara, Tumenggung    (bupati),   Penghulu   Bendahari,  dan  Syahbandar   (kepala   pelabuhan/ panglima pangkalan).
  2. Sumber sejarah
    • Sulalatus Salatin: karya tulis dalam abjad Jawi dan bahasa Melayu yang mirip babad. Babad ini menyatakan  bahwa Kesultanan Malaka merupakan lanjutan dari Kerajaan Melayu di Singapura.  Melalui  kekuatan  armada  laut  dan  letaknya  yang  strategis, Kesultanan  Malaka menjadi kota  pelabuhan  dan pusat  perdagangan  di jalur  Selat Malaka. Hasil buminya yang terkenal adalah lada, emas, timah, dan kapur.
    • Berita  dari Dinasti  Ming: pendiri  Kesultanan  Malaka adalah  Parameswara  dan gelar sultan  dipakai pada tahun  1455. Tercatat bahwa utusan  Malaka telah mengunjungi Kaisar Cina sebanyak 29 kali. Hal itu menunjukkan stabilnya diplomasi kesultanan ini.
  3. Keruntuhan
    Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah, ibukota kerajaan diserang oleh Portugis di bawah  pimpinan  Alfonso D'Albuquerque. Akhirnya pada tanggal  24 Agustus  1511, Malaka jatuh ke tangan  Portugis. Sultan Mahmud  Syah memindahkan  kekuasannya ke Bintan dan menyerang Portugis kembali, namun pada tanggal 23 Oktober  1526 Portugis membumihanguskan Bintan.

 

c. Kesultanan Demak (1475-1554)

  1. Letak geografis dan sistem pemerintahan
    Demak sebelumnya merupakan  kadipaten dari Kerajaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh, Demak menjadi  kesultanan  Islam  pertama dan terbesar di pantai  utara Jawa. Menurut cerita rakyat, Raden  Patah  pendiri  Kesultanan  Demak adalah  keturunan  raja terakhir  Majapahit, Brawijaya V. Demak berkembang  pesat sebagai penghasil beras dan bahan makanan lainnya. Selain itu, bidang maritim Demak sangat maju karena letaknya yang strategis di antara jalur perdagangan Maluku dan Malaka.
  2. Perlawanan terhadap Portugis
    Hubungan Demak dengan Malaka dan Samudera Pasai terjalin  baik sebelum keduanya jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511  dan 1512. Menantu Raden Patah, AdipatiJepara bernama Raden Abdul Qadir bin Yun us (Pati Unus) menyerang Portugis pada Januari 1513, namun  mengalami  kegagalan. Pada tahun  1521, Pati Unus yang telah  menjadi  sultan menggantikan  Raden  Patah  memimpin  armada  gabungan  untuk  menyerang  Portugis. Pati Unus gugur dalam perang tersebut sehingga diberi gelar Pangeran Sabrang Lor.
  3. Masa kejayaan
    Sepeninggal Pati Unus, terjadi  perebutan takhta Demak antara kedua adiknya, Raden Trenggana dan Raden Kikin. Raden  Kikin  (Pangeran Sekar Seda ing  Lepen) kemudian dibunuh  oleh  utusan anak Raden Trenggana, yakni  Sunan Prawoto. Raden Trenggana kemudian   naik  takhta  menjadi   Sultan  Demak  Ill  bergelar  Sultan  Ahmad  Abdullah Arifin.  Pemerintahannya membawa  Demak mencapai  puncak kejayaan dengan  daerah kekuasaan hingga ke Jawa Timur. Pada masa ini pula, adik ipar Sultan Trenggana yang bernama Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Jawa Barat dan Sunda Kelapa (saat ini Jakarta).
  4. Kemunduran dan keruntuhan
    Sepeninggal Sultan Trenggana, Kerajaan Demak mengalami krisis politikakibat perebutan kekuasaan. Kronologi  krisis tersebut  hingga  berakhirnya  Kesultanan  Demak  sebagai berikut.
    • Tahun  1546: Sunan  Prawoto menjadi Sultan  Demak menggantikan ayahnya, Sultan Trenggana.
    • Tahun  1549: Sunan  Prawoto dibunuh  oleh Arya Penangsang, yakni seorang Adipati Jipang  dan  putra  dari  Pangeran  Sekar.  Arya  Penangsang  naik  takhta  sebagai Sultan  Demak V.  la  kemudian  mengirim  utusan  untuk membunuh  menantu  Sultan Trenggana, yakni Pangeran Kalinyamat di Jepara dan Jaka Tingkir di Pajang. Seorang utusannya berhasil membunuh  Pangeran Kalinyamat.
    • Tahun    1549:    Setelah    terbunuhnya    Adipati    Jepara    tersebut,    Jaka    Tingkir mempersiapkan  pemberontakan.  Sebagai  sesama  keluarga  Kesultanan  Demak, Jaka Tingkir segan membunuh  Arya Penangsang. la lalu mengadakan  sayembara berhadiah  tanah  di Mataram  dan Pati  bagi siapapun  yang  berhasil mengalahkan Arya Penangsang.
    • Tahun  1554:  Ki  Pamanahan  dan Ki  Penjawi  mengikuti  sayembara tersebut.  Namun, melalui  siasat dari Ki  Juru Martani, yang  berhasil  mengalahkan  Arya Penangsang adalah Danang Sutawijaya, anak dari Ki Pamanahan. Setelah wafatnya Arya Penangsang maka berakhirlah Kesultanan Demak.
    • Tahun 1556:Jaka Tingkiryang sebelumnya merupakan Adipati Pajang kemudian naik takhta bergelar Sultan  Hadiwijaya. la  memindahkan  pusat pemerintahan  Demak ke Pajang dan mendirikan  Kesultanan Pajang.

 

d. Kesultanan Aceh (1496-1903)

Kesultanan Aceh terletak di  ujung  utara  Pulau Sumatra dan  ibukotanya  berada di  Banda Aceh. Perekonomian Aceh bertumpu pada pelayaran dan perdagangan karena letaknya yang strategis di dekat Selat Malaka. Komoditas utamanya adalah rempah-rempah, khususnya lada, selain itu juga  hasil tambang,  seperti timah  dan emas. Periodisasi masa pemerintahan dan kehidupan  politik Kesultanan Aceh sebagai berikut.

  1. Sultan Ali Mughayat Syah (1574-1528)
    Pendiri Kesultanan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Di bawah pimpinannya,  Aceh memperluas  kekuasaannya hingga ke Pattani, Thailand. Kerajaan-kerajaan lain, seperti Kerajaan  Pidie, Kerajaan Peurelak (Aceh Timur), Kerajaan  Daya (Aceh  Barat Daya), dan Kerajaan Aru (Sumatra Utara) berhasil ditaklukkan dari Portugis. Selain itu, sultan juga menggempur  Portugis  hingga  terpukul   mundur   ke India.  Sultan  Ali  Mughayat  Syah meletakkan dasar-dasar politik luar negeri sebagai berikut.
    • Mencukupi  kebutuhan sendiri sehingga tidak bergantung dengan pihak luar.
    • Menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
    • Bersikap waspada terhadap kolonial Barat.
    • Menerima bantuan tenaga ahli dari luar.
    • Menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara.
  2. Sultan lskandar Muda (1607-1528)
    Kesultanan Aceh mengalami  masa kejayaan dipimpin oleh Sultan lskandar Muda. Aceh berhasil  menaklukkan   Johor  dan  Malaka  sehingga  daerah  penghasil  lada  semakin banyak dan perdagangan  semakin luas. Sesuai dengan pendahulunya,  beliau mengusir Portugis dan tidak menerima  permintaan pembelian  rempah-rempah  oleh Belanda dan lnggris. Pada masa ini, bangsawan Aceh (Uleebalang/hulubalang) tunduk  pada sultan, namun  hukum  adat  "Qanun  Meukuta Alam AI-Asyi" tetap  ditegakkan.  Sultan  lskandar Muda berhasil menanamkan  nilai-nilai  Islam  dalam kehidupan  masyarakat Aceh  hingga akhirnya mangkat dan digantikan oleh menantunya, Sultan lskandarTsani.
    Kemunduran Aceh dimulai  sejak terjadinya  kontlik internal sepeninggal Sultan lskandar Muda dan Sultan lskandarTsani. Keadaan itu semakin rumit dengan adanya serangan dari pihak kolonial, yakni  lnggris dan Belanda. Setelah Perang Aceh yang  berkepanjangan, Belanda  tetap tidak  dapat  menguasai  Aceh. Pada  akhir abad  ke-19, sarjana  Belanda bernama Snouck Hurgronje memahami bahwa kekuatan Aceh bukan pada sultan, namun pada ulama atau  uleebalangnya. Berdasarkan  informasi tersebut,  Belanda  mengubah taktik  perangnya sehingga  dapat  menguasai hampir  seluruh  wilayah Aceh pada tahun 1903.  Perang  melawan  Kesultanan  Aceh merupakan  perang terlama  yang  dilalui  oleh Belanda, bahkan em pat jenderal  Belanda tewas di pertempuran tersebut.

 

e. Kesultanan Banten (1527--1813)

  1. Berdirinya Kesultanan Banten
    Sejak dikuasainya Malaka oleh Portugis tahun  1511, Selat Sunda menjadi  pintu masuk utama  para pedagang  muslim  dan  pedagang  Eropa  untuk berdagang  ke Nusantara. Banten yang berada di dekat Selat Sunda kemudian banyak disinggahi pedagang muslim. Hal itu sesuai dengan berita Laksamana Cheng-Ho, Ma Huan, dan Tome Pires bahwa sejak abad ke-15 banyak terdapat komunitas muslim di pantai utara Jawa (pelabuhan Banten). Cucu Prabu Siliwangi yang bernama Syarif Hidayatullah merupakan tokoh penting dalam dakwah Islam di Banten. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati menikah dengan  anak pemimpin  Banten Pesisir atau Sang Surosowan. Anaknya yang  bernama Maulana  Hasanuddin  kemudian   mendirikan   Kesultanan  Banten  dan  menjadi  Sultan Banten I.
  2. Masa kejayaan dan perlawanan terhadap VOC
    Pada tahun  1596, Belanda pertama kali memasuki Banten, namun segera diusir akibat perilakunya  yang  buruk  dalam  perdagangan.  Dua tahun  kemudian,  Belanda  datang kembali  dengan  mengubah  perilakunya, namun lama-kelamaan mereka mulai menimbulkan kekacauan. Banten yang kemudian dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa mulai memerangi  mereka. Sultan Ageng meningkatkan armada perang dan membuka Banten  sebagai  pelabuhan  bebas untuk  menghalangi  monopoli  yang  dilakukan  oleh kongsi dagang Belanda, yakni VOC.
  3. Kemunduran dan keruntuhan
    Pada tahun  1603 terjadi perselisihan antara kedua putra Sultan Ageng, yakni Sultan  Haji dan Pangeran Purbaya. VOC yang bekerja sama dengan Sultan Haji memanfaatkan perang saudara tersebut untuk menyingkirkan Sultan Ageng. Peperangan yang terjadi kemudian mendesak Sultan Ageng  untuk meninggalkan  keraton hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan  ke Batavia. Kesultanan Banten kemudian  dipimpin  oleh Sultan Haji, namun VOC memiliki   kekuasaan  monopoli   lada  dan  pengangkatan   sultan   harus  meminta persetujuan VOC.

 

f. Kesultanan Mataram  (1588-1681)

  1. Berdirinya Kesultanan Mataram
    Sesuai  dengan  janjinya,  Sultan  Hadiwijaya  dari  Kerajaan  Pajang  memberikan   hadiah tanah  di Mataram  kepada  Ki  Pamanahan  yang  dianggap  berhasil  mengalahkan  Arya Penangsang.  Selain  itu,  anaknya  yang  bernama  Sutawijaya  diangkat  anak  oleh  sultan dan  dipersaudarakan   dengan  putra   mahkota,  Pangeran   Benawa.  Raden   Sutawijaya yang  berkemampuan   bagus dalam  militer  kemudian  menggantikan  ayahnya  sebagai bupati  Mataram  dengan  gelar "Senapati  ing  Alaga" atau  panglima  di  medan  perang (1575).  Selanjutnya,  Kadipaten  Mataram  berkembang   pesat  di  bawah  pimpinannya. Setelah   meninggalnya   Sultan   Hadiwijaya,   terjadi   krisis  politik   di  Pajang.   Senapati kemudian  bersekutu  dengan  Pangeran  Benawa  untuk  melawan menantu  sultan, yakni Arya Pangiri.  Peperangan  tersebut  dimenangkan  oleh  pihak Senapati  sehingga  takhta Pajang dikembalikan  kepada Pangeran Benawa. Sepeninggal pangeran, sesuai dengan wasiatnya, Kesultanan Pajang digabungkan  dengan Mataram. Senapati kemudian membentuk Kesultanan Mataram, namun sebagai penguasa ia tidak menggunakan  gelar sultan melainkan Panembahan Senapati.
  2. Masa kejayaan Mataram
    Mataram mencapai puncak kejayaan saat dipimpin oleh Panembahan Hanyakrakusuma atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Agung  (1613-1645). Pada masa ini, VOC menaklukkan   Jayakarta  sehingga  menghalangi   usaha  Sultan  Agung   menaklukkan Banten dan seluruh Pulau Jawa. Pada tahun  1629,  pasukan Sultan Agung  menyerang Batavia  (Jayakarta)  untuk  kedua kalinya. Namun,  pasukan di bawah  pimpinan  Adipati Ukur tersebut  mengalami  kegagalan karena VOC membakar  lumbung  bahan makanan mereka. Meskipun  demikian,  pasukan tersebut  berhasil  mengotori  Kali Ciliwung  dan menyebabkan  wabah  kolera. Tentara VOC,  bahkan Gubernur Jenderal J.P. Coen tewas karena wabah tersebut. Pada akhir kekuasaan Sultan Agung, seluruh  Pulau Jawa sempat tunduk  di  bawah  Kesultanan  Mataram, kecuali Blambangan dan  Banten-Batavia yang dikuasai VOC. Daerah di luar Jawa yang berhasil ditaklukkan adalah Palembang (Sumatra) dan Sukadana (Kalimatan). Sultan Agung menjadikan Mataram sebagai kesultanan yang hidup  dari Islam, pertanian, dan nilai-nilai kebudayaan adiluhung. Peninggalan Sultan Agung  lainnya, antara lain Makam  Raja-Raja Mataram di lmogiri, Sastra Gending, dan Kalendar Jawa.
  3. Masa kemunduran Mataram
    Sepeninggal Sultan Agung, penerusnya yang bergelar Amangkurat I   tidak dapat melanjutkan kebesarannya. la memindahkan  keraton dari Karta ke Plered, bekerja sama dengan  VOC,  dan memulai  konflik  internal di  Kesultanan  Mataram. Akibatnya, terjadi periode  yang  disebut  Perang  Suksesi  Jawa  1-111.  Selain  melibatkan  keluarga Mataram dan pemimpin rakyat Jawa lain, seperti Trunajaya dan Untung Surapati, perang tersebut memboncengi VOC yang  berniat  menguasai seluruh  Pulau  Jawa.  Kesultanan  Mataram runtuh saat Amangkurat I  wafat dan Keraton Plered diambil alih oleh salah satu anaknya, Amangkurat II. Amangkurat II kemudian memindahkan  ibukota dan membangun Kasunanan Kartasura dengan bantuan VOC (sesuai Perjanjian Jepara  1677).
  4. Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga atas daerah kekuasaan Mataram
    Berikut ini adalah penjelasan mengenai Perang Suksesi Jawa yang memperebutkan kekuasaan Mataram dalam takhta Kartasura.
    1. Perang Suksesi Jawa I (1704-1708)
      Perang ini terjadi antara Amangkurat Ill melawan pamannya, Pangeran Puger, yakni putra mahkota Kesultanan Mataram sebelum saudaranya menjadi  Amangkurat II. Perang  ini dimenangkan  oleh  Pangeran Puger sehingga ia kemudian  naik takhta bergelar Pakubuwono I.
    2. Perang Suksesi Jawa II (1719-1723)
      Perang   ini  terjadi   antara   Amangkurat   IV  (anak  Pakubuwono   I)   melawan  adik• adiknya, yakni Pangeran  Blitar dan Pangeran Purbaya. Perang ini dimenangkan  oleh Amangkurat IV yang dibantu oleh voe.
    3. Perang Suksesi Jawa Ill (1747- 1757)
      Pengganti Amangkurat IV, yakni Pakubuwono II memindahkan  ibukota Kartasura ke Surakarta akibat peristiwa Geger Pacinan dan serangan Cakraningrat IV, pemimpin Madura  yang  dibantu  oleh  VOC.  Masa akhir  Pakubuwono  II  ditandai  dengan penyerahan  kedaulatan  Surakarta  kepada VOC.  Hal  itu  kemudian  memicu  perang saudara antara  Pakubuwono Ill  dengan  Pangeran  Mangkubumi  (pamannya)  dan Raden  Mas Said  (sepupunya  dari  Pangeran  Mangkunegara).  Berakhirnya  perang tersebut  ditandai  oleh  Perjanjian  Giyanti  (13  Februari  1755),  di  mana  wilayah Mataram terbagi menjadi dua. Wilayah sebelah timur dikuasai oleh pewaris Mataram, yakni  Pakubuwono Ill dengan  tetap berkedudukan  di Surakarta. Adapun  sebelah barat atau daerah Kesultanan Mataram sebelumnya diserahkan  kepada Pangeran Mangkubumi. Pangeran kemudian membangun  Kesultanan Yogyakarta dan menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Raden Mas Said tetap memerangi VOC yang dianggap telah  memecah  belah Kesultanan Mataram hingga  akhirnya berhasil membentuk kadipaten  sendiri  yang  bebas dari VOC sesuai  Perjanjian  Salatiga  (17  Maret  1757). Perjanjian Salatiga membagi wilayah Surakarta menjadi dua, Surakarta bagian utara diberikan kepada Raden Mas Said dengan gelar Adipati Mangkunegaran I  (Kadipaten Agung Mangkunegaran), sedangkan bagian selatan tetap dimiliki  oleh Pakubuwono Ill (Kasunanan Surakarta).

 

 

D. AKULTURASI KEBUDAYAAN ISLAM DAN INDONESIA

 

a. Seni Sastra dan Aksara

Seni sastra dipengaruhi  oleh sastra Islam dan masa pra-lslam. Beberapa contohnya sebagai berikut.

  1. Hikayat
    Hikayat  merupakan  karya sastra  berisi  cerita  sejarah  ataupun  dongeng  yang  ditulis berbentuk gancaran  (karangan  bebas/prosa).  Pada  masa Islam,  muncul  hikayat yang bercerita tentang para sultan, orang-orang bijaksana, atau cerita rakyat yang berkembang di TimurTengah. Contoh: Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat 1001  Malam, dan Hikayat Bayan Budiman.
  2. Babad
    Babad  berisi fakta  sejarah,  mitos,  ataupun  kepercayaan. Babad  biasa disebut tambo atau salasilah di tanah  Melayu dan ceritanya  berisi kehidupan  masyarakat Islam atau pemerintahan  kesultanan.  Contoh:  Babad Tanah  Jawi,  Babad  Cirebon,  Babad  Mataram, dan Babad Surakarta.
  3. Syair
    Syair merupakan sajak-sajak yang terdiri atas em pat baris setiap baitnya. Syair berasal dari Arab dan awalnya ditulis di batu nisan. Contoh: batu nisan makam Putri Pasai di Minye Tujoh.

 

b. Sistem Penanggalan

Rakyat Jawa di bagian pesisir utara menggunakan  sistem penanggalan  Islam, yakni kalender Hijriah  berdasarkan  peredaran  bulan  (komariyah).  Kalender  Islam  digunakan  sejak  masa Khalifah  Umar bin Khattab di mana 1    Hijriah bertepatan dengan 14 September 622 M. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram menyatukan kalender tersebut dengan kalender Saka yang masih digunakan  rakyat Jawa pedalaman. Tahun Saka dan nama-nama bulan  Hijriah tetap digunakan, namun beberapa nama bulan diganti dalam bahasa Sansekerta, seperti Muharam diganti Sura dan Ramadhan diganti Pasa. Penyatuan dua sistem penanggalan tersebut membentuk Kalender Jawa Islam yang dimulai pada 1   Muha ram 1043 H atau 1   Sura 1555 Jawa atau 8 Agustus 1633 M.