Materi Online


Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam - Geografi (Soshum) SBMPTN



A.  SEBARAN  DAERAH RAWAN BENCANA  ALAM INDONESIA

 

Bencana alam merupakan peristiwa yang mengancam kehidupan  makhluk hidup yang disebabkan oleh fenomena a lam. Berikut ini adalah macam-macam bencana a lam dan sebaran daerah rawan bencana alam di Indonesia.

 

a. Erupsi

Erupsi adalah peristiwa meletusnya gunung  api. Gunung berapi dapat didefinisikan  sebagai sistem  saluran  fluida  panas (batuan  dalam  wujud   cair  atau  lava)  yang  memanjang  dari kedalaman  sekitar 10 km sampai ke permukaan  bumi, termasuk  endapan  hasil akumulasi material  yang  dikeluarkan  pada saat  meletus.  Daerah yang  berada di sekitar  gunung  api aktif termasuk  zona rawan  bencana, misalkan  Gunung  Sinabung, Merapi,  Kelud, Semeru, Bromo, Soputan, Lokan, Agung, dan Tambora. Secara umum seluruh wilayah Indonesia rawan bencana erupsi karena kepulauan Nusantara termasuk dalam zona geologi "Cincin Api Pasifik" yang memiliki  75% gunung  api aktif dunia.

 

b. Gempa Bumi

Gempa  bumi  merupakan  peristiwa  bergetarnya bumi  akibat pelepasan energi dari dalam bumi secara tiba-tiba. Berdasarkan sumbernya, gempa bumi dibedakan sebagai berikut.

  1. Gempa bumi tektonik
    Gempa  yang  disebabkan  oleh  aktivitas  tektonik,  yaitu  pergeseran  lempeng  tektonik secara mendadak yang mempunyai  kekuatan dari sangat kecil hingga sangat besar.
  2. Gempa bumi vulkanik (gunung api)
    Gempa yang terjadi akibat adanya aktivitas magma sebelum gunung  api meletus.
  3. Gempa runtuhan (terban)
    Gempa yang terjadi karena adanya runtuhan tanah (batuan) di lereng gunung atau pantai yang curam sehingga dapat menyebabkan tanah longsor.

Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena memiliki jalur pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni lempeng Inda-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Inda-Australia relatif bergerak ke arah utara dan menyusup ke dalam lempeng Eurasia, sedangkan lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah barat. Pergerakan lempeng• lempeng tersebut memancarkan energi berupa gelombang ke segala arah. Gelombang yang sampai ke permukaan bumi akan kita rasakan sebagai gem pa bumi. Aktivitas tektonik tersebut menyebabkan gempa bumi yang paling membahayakan, khususnya bagi daerah subduksi atau patahan. Wilayah yang rawan gempa adalah Aceh, Padang, Nias, Jambi, Bengkulu, Lampung, Tasikmalaya, Yogyakarta, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

 

c. Tsunami

Tsunami terjadi karena adanya gempa runtuhan atau erupsi gunung  api di dasar laut. Wilayah Indonesia terletak di antara tiga lempeng tektonik. Jalur lempeng tersebut berada di  bawah laut sehingga jika terjadi  gempa  bumi besar dengan  kedalaman dangkal  akan berpotensi tsunami. Gelombang tsunami dapat sangat destruktif terhadap  lingkungan di daerah pesisir termasuk merusak struktur bangunan dan infrastruktur. Daerah rawan tsunami adalah daerah yang menghadap samudra luas, seperti pantai barat Sumatra.

 

d. Longsor

Longsor adalah pergerakan tanah  di daerah yang curam. Longsor umumnya  berlangsung cepat tanpa  peringatan dan mengakibatkan kerusakan struktur bangunan  atau akses jalan. Bencana longsor sering terjadi di Indonesia karena iklim tropis menyebabkan tingginya  curah hujan. Daerah yang rawan longsor adalah semua daerah di lereng bukit. Contohnya, daerah di Banjarnegara, Ponorogo, Wonosobo, Purworejo, dan Ciwidey.

 

e. Banjir

Curah  hujan yang sangat tinggi  dan  musim  hujan  yang  berlangsung  lama menyebabkan banyak wilayah Indonesia rawan banjir. Banjir air umumnya terjadi di daerah dataran rendah yang  dialiri  sungai, seperti Jakarta, Bandung, dan  Bekasi. Banjir dapat juga  terjadi  karena pasang air laut, seperti banjir rob di daerah Semarang.

 

f. Angin Puting Beliung

Angin merupakan gerakan udara dari daerah bertekanan tinggi  ke daerah bertekanan rendah. Puting beliung adalah angin yang umumnya terjadi pada musim pancaroba (peralihan musim panas ke musim hujan) di suatu daerah bertekanan rendah. Pada saat pembentukan awan kumulonimbus terjadi arus udara naik bertekanan tinggi. Titik air dan kristal es tertahan oleh arus tersebut. Ketika titik air sudah tidak dapat ditahan maka air turun  menjadi hujan. Hujan menyebabkan gaya gesekantara arus udara naikdan turun. Selain itu, hujanjuga menurunkan temperatur  massa udara turun  sehingga  menjadi  lebih  dingin  dari  sekitarnya.  Akibatnya, arus udara naik turun tersebut menimbulkan arus geser bertekanan tinggi  yang membentuk pusaran yang semakin lama semakin cepat. Pusaran angin tersebut dapat berputar dengan kecepatan  lebih  dari  63  km/jam.  Daerah yang  pernah  diterjang  puting  beliung  adalah Sukabumi, Banten, Jawa Timur, dan Sumatra bagian barat.

 

 

B. MITIGASI BENCANA ALAM

 

Mitigasi bencana adalah upaya yang dilakukan  untuk mengurangi  atau mencegah risiko dari bencana tersebut.

 

a. Mitigasi Gempa

Upaya  pencegahan  atau  meminimalkan   dampak  negatif dari  terjadinya  gempa  bumi  di antaranya sebagai berikut.

  1. Membangun  konstruksi bangunan yang tahan getaran atau gempa.
  2. Memperkuat bangunan-bangunan khususnya fasilitas-fasilitas umum.
  3. Merencanakan penempatan pemukiman  untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah yang rawan gempa bumi.
  4. Melakukan penyuluhan  dan praktik penyelamatan saat gempa kepada masyakarat.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu dilakukan saat terjadi gempa bumi.

  1. Jika  berada di  luar  rumah maka carilah tempat terbuka  atau  tanah  lapang  dan hindari tern pat dengan pohon tinggi, tiang listrik, papan reklame, dan jembatan.
  2. Jika   terjebak   di   dalam   rumah   maka  hindari   lemari,   rak  buku,   dan  jendela   kaca. Berlindunglah di bawah meja atau tempat tidur.
  3. Jika sedang berkendara maka jangan berhenti di bawah jembatan layang atau jembatan penyebrangan.

 

b. Mitigasi Banjir

  1. Mitigasi struktural
    Contoh dari penggunaan  metode mitigasi struktural sebagai berikut.
    • Membangun  tanggul  di  sepanjang  aliran  sungai  untuk  mengurangi   risiko  banjir yang kerap terjadi pada tingkat debit air yang tidak bisa diprediksi.
    • Mengatur kecepatan aliran dan debit air dengan membangun bendungan atau waduk.
    • Membersihkan  sungai  dari endapan  lumpur  atau  sampah  dan membuat  sudetan (belokan aliran air).
    • Membuat lahan serapan air.
  2. Mitigasi nonstruktural
    Metode nonstruktural dilakukan melalui upaya perencanaan wilayah dan asuransi.
    • Pembentukan LSM yang bergerakdi bidang lingkungan sehingga dapat memberikan pelatihan dan pendidikan  kepada masyarakat mengenai bahaya banjir.
    • Membentuk kelompok kerja (pokja) untuk menetapkan pembagian  peran dan kerja untuk penanggulangan banjir.
    • Mengevaluasi daerah rawan banjir.
    • Menganalisis data-data yang berkaitan dengan banjir, seperti data curah hujan, debit air, keadaan setiap tanggul, dan daerah-daerah rawan banjir.