Materi Online


Interaksi Desa-Kota - Geografi (Soshum) SBMPTN



A. DESA

 

a. Pengertian Desa

Menurut Paul H. Landis, desa adalah suatu wilayah yang penduduknya  kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Mempunyai  pergaulan hidup yang saling mengenal.
  2. Adanya ikatan perasaan yang sama tentang kebiasaan.
  3. Cara  berusaha bersifat  agraris  dan sangat  dipengaruhi  oleh faktor-faktor  alam,  seperti iklim, topografi,  dan sumber daya alam.

 

b. Karakteristik Desa

  1. Hubungan sosial paguyuban
  2. Gotong-royong
  3. Homogen (petani untuk desa agraris dan nelayan untuk desa nelayan)
  4. Konformitas (senasib)
  5. Mobilitas penduduk  rendah
  6. Kepadatan penduduk rendah
  7. Toleransi sosial kuat
  8. Proses sosial lambat
  9. Kehidupan bergantung pada alam
  10. Tanah dominan  untuk lahan
  11. lndustri primer atau tanpa pengolahan
  12. Kontrol sosial berdasarkan norma dan hukum informal

 

c. Fungsi Desa

Desa berfungsi sebagai pemerintahan terendah dalam menjalankan kebijakan yang digariskan oleh pemerintahan di atasnya. Fungsi desa yang dominan  adalah sebagai daerah pendukung (hinterland) kota, antara lain:

  1. sumber bahan pangan,
  2. sumber tenaga kerja,
  3. sumber bahan mentah industri,
  4. pusat industri kecil atau kerajinan rakyat,
  5. pusat wisata atau keindahan alam, dan
  6. sebagai mitra pembangunan  kota.

 

d. Pola Pemukiman Desa

  1. Memanjang (linear)
    Bentuknya memanjang di pesisir pantai, di tepijalan dan rel kereta api, atau di tepi sungai.
  2. Melingkar (radial)
    Bentuknya mengelilingi gunung api, sumber mata air, atau fasilitas tertentu, seperti pusat pemerintahan dan pusat industri. Dalam pola ini, pemukiman  mengelompok di daerah pegunungan  dan di daerah tanah subur.
  3. Menyebar (dispersed)
    Pada pola ini, pemukiman  menyebar di daerah gunung  api aktif, dataran tinggi  terjal dan pegunungan  tinggi terjal (topografi kasar), serta daerah karst (daerah kapur yang berpori-pori).

 

 

B. KOTA

 

a. Pengertian Kota

Bintarto  mengungkapkan  bahwa  kota  merupakan   sistem  jaringan   kehidupan   manusia dengan kepadatan penduduk tinggi, struktur sosial ekonomi heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik.

 

b. Karakteristik Kota

  1. Hubungan sosial patembayan
  2. Mata pencarian non-agraris
  3. Status sosial ekonomi heterogen
  4. Pandangan hidup rasional dan berpikiran  maju
  5. Toleransi lemah
  6. Kepadatan penduduk  tinggi
  7. Mobilitas penduduk  tinggi
  8. Cepat berganti pekerjaan
  9. Terdapat pemisahan keruangan
  10. Penggunaan tanah dominan  untuk industri dan jasa
  11. Terdapat kesenjangan sosial
  12. Norma agama tidak begitu ketat

 

c. Klasifikasi Kota

Berdasarkan fungsinya, kota dibedakan sebagai berikut.

  1. Kota sebagai pusat pemerintahan
    Jenis kota ini memiliki  perkembangan  yang pesat karena berfungsi juga  sebagai pusat industri, perdagangan, politik, dan sosial budaya.
  2. Kota sebagai pusat industri
    Kota  dengan   kegiatan  industrinya  lebih  dominan   daripada  kegiatan  lain.  Kota  ini umumnya  dikelilingi  oleh daerah-daerah  penghasil  bahan mentah/baku dan memiliki sarana transportasi yang sangat lancar.
  3. Kota sebagai pusat perdagangan
    Kota dengan aktivitas perdagangan  lebih dominan.  Kota ini umumnya  kota pelabuhan dengan aksesibilitas tinggi.
  4. Kota sebagai pusat rekreasi dan kesehatan
    Kota ini memiliki udara yang bersih, bersuhu sejuk, dan pemandangan  alamnya sangat indah sehingga mampu menjadi tujuan rekreasi dan penyembuhan.
  5. Kota sebagai pusat kebudayaan
    Kota ini memiliki potensi budaya yang tinggi  karena umumnya merupakan daerah bekas pusat kerajaan.

 

d. Tahap Perkembangan Kota

Berdasarkan pendapat Griffith Taylor tahap perkembangan  kota dibedakan sebagai berikut.

  1. Stadium Infantile
    Pada  stadium  ini  batas  antardaerah  tidak  tampak  jelas,  seperti  batas  antara  daerah pemukiman  dan industri. Contoh: menyatunya pertokoan dengan rumah pemilik toko.
  2. Stadium Juvenile
    Pada stadium ini terdapat desakan pada perumahan-perumahan lama oleh perumahan• perumahan baru. Contoh: pertokoan dan perumahan pemilik toko sudah terpisah.
  3. Stadium Mature
    Pada  stadium  ini  banyak daerah baru muncul  mengikuti  rencana tata  ruang, misalnya kawasan industri dan perumahan.
  4. Stadium Senile
    Pada  stadium  ini  setiap  kawasan kurang  mendapat  pemeliharaan  sehingga  mengalami kemunduran. Tahap ini disebutjuga stadium kemunduran  kota.

 

e. Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Wilayah Kota

Urbanisasi merupakan  salah satu faktor utama yang memengaruhi  perkembangan  wilayah kota. Perpindahan penduduk  dari desa  ke kota (urbanisasi) tersebut terjadi  karena faktor-faktor berikut.

  1. Faktor penarik dari kota
    • Tingkat upah di kota lebih tinggi.
    • Mudah mendapatkan pekerjaan meskipun dengan keterampilan yang terbatas.
    • Adanya berbagai fasilitas yang lebih lengkap daripada di desa.
    • Adanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan  ke jenjang yang lebih tinggi.
  2. Faktor pendorong dari desa
    • Pendapatan di desa rendah.
    • Makin sempitnya lapangan kerja di desa.
    • Kurangnya  fasilitas  sosial  ekonomi,  misalnya  pendidikan,  kesehatan,  olahraga, dan rekreasi.
    • Kemajuan transportasi antara desa dan kota.

 

f. Teori Perkembangan Kota

Banyaknya kaum urban is di kota menuntut kebutuhan lahan untuk permukiman dan lapangan pekerjaan sehingga menyebabkan  kota mengalami  perkembangan.  Berikut ini adalah teori• teori yang menjelaskan tentang perkembangan  kota.

  1. Teori Konsentris (E. W. Burgess)
    Teori  ini  beranggapan  bahwa kota  cenderung  berkembang  dari satu  titik  ke arah  luar. Pola keruangan berbentuk lingkaran yang berlapis-lapis dengan pusat kegiatan (central business district) sebagai intinya. Masing-masing  zona mencerminkan  tipe  penggunaan lahan yang berbeda-beda. Semakin ke arah keluar, semakin berkurang aktivitas ekonominya. Pembagian zona wilayah teori konsentris sebagai berikut.
    • Pusat  wilayah/kota  (Central  Business  District):  terdapat  pusat  pertokoan,  gedung perkantoran, bank, hotel, restoran, dan sebagainya.
    • Zona  transisi/peralihan:  terdapat  kawasan  industri,   kota   lama,  dan  konsentrasi penduduk  miskin berupa wilayah kumuh (slum area).
    • Zona permukiman pelas proletar: dihuni oleh para pekerja berpenghasilan  kecil atau kaum buruh atau karyawan kelas bawah dan ditandai dengan adanya rumah susun sederhana.
    • Zona   permukiman    kelas  menengah   (Residential  Zone):   merupakan   kompleks perumahan karyawan kelas menengah berkeahlian tertentu.
    • Zona  permukiman   kelas tinggi:   ditandai   dengan  adanya   kawasan  elit  dengan sebagian besar penduduknya  adalah kaum eksekutif.
    • Zona penglaju (Commuters):  merupakan  wilayah yang termasuk wilayah  belakang (hinterland) yang merupakan  batas desa-kota.  Penduduknya  bekerja di  kota, tetapi tinggal  di pinggiran  kota.
  2. Teori Sektor (Homer Hoyt)
    Menurut teori  ini  kota  berkembang  menurut  sektor-sektor.  Pajak tanah dan bangunan tiap  sektor  berbeda-beda.   Harga  sewa  tanah  tertinggi  tidak  selalu  di  dekat  pusat kota  (CBD),  namun  dipengaruhi   oleh  faktor jaringan   transportasi,  komunikasi,  dan infrastruktur.  Setiap  sektor  berkembang  sendiri  dan setiap  sektor  dapat  berkembang lebih cepat daripada sektor lain. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh topografi  dan jenis aktivitas penduduknya. Kota berkembang  secara horizontal dan vertikal. Di sektor masyarakat kaya, terjadi perkembangan  secara vertikal karena sulitnya mencari lahan dan mahalnya harga lahan. Di sektor masyakarat miskin, pertumbuhan memadat sehingga muncul slum area dan pemukiman  liar. Semakin ke pusat kota, kegiatan industri semakin berkurang. Lokasi industri dan pemukiman  mengikuti jalur transportasi.

 

g. Dampak Perkembangan Wilayah Kota

Perkembangan wilayah kota membawa dampak sebagai berikut.

  1. Terjadi  alih fungsi  lahan, dari  lahan  pertanian  menjadi  lahan  pemukiman   dan  bisnis sehingga  lahan  hijau  berkurang.  Akibatnya,  ketahanan  pangan  menipis  dan semakin banyaknya keadaan yang merusak lingkungan.
  2. Pemukiman penduduk  semakin padat sehingga muncul slum area dan sampah semakin meningkat. Akibatnya, sering terjadi banjir di musim hujan.
  3. Alat transportasi  semakin  banyak  sehingga  menyebabkan  kemacetan  dan  tingginya jumlah  kecelakaan lalu lintas.
  4. Kegiatan industri semakin berkembang  sehingga semakin banyak terjadi pencemaran tanah, air, udara, dan suara.

 

 

C. INTERAKSI DESA-KOTA

 

lnteraksi desa-kota adalah proses hubungan timbal  balik antara unsur-unsur yang ada di kota dan di desa yang  menyebabkan  munculnya  pengaruh  terhadap  perilaku  dari  pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung, berita yang didengar atau surat kabar sehingga melahirkan sebuah gejala baru, baik berupa fisik maupun nonfisik.

 

a. Kekuatan lnteraksi Desa-Kota

Kekuatan interaksi antara desa dan kota dijelaskan dalam teori interaksi sebagai berikut.

  1. Teori indeks konektivitas (Teori Grafik)
    Teori  ini  menyatakan  bahwa "besarnya  konektivitas  atau  tingginya   kekuatan  interaksi bergantung   pada  jumlah   jaringan   jalan"   lndeks   konektivitas   ditentukan   dengan persamaan berikut.

    β = J/K

    Keterangan:
    β = indeks konektivitas
    J = jumlah jaringan jalan
    K = jumlah  kota

  2. Teori interaksi gravitasi
    Teori gravitasi menyatakan bahwa"kekuatan interaksi tergantung padajumlah penduduk dan jarak antarwilayah". Teori  gravitasi digunakan jika terdapat persamaan pada kondisi penduduk,  kondisi sarana dan  prasarana, dan  bentuk relief. Model  gravitasi  memiliki persamaan umum sebagai berikut.

    Tij = (Pi x Pj) / (Dij)2

    Keterangan:
    Tij = pergerakan penduduk  tempat i  ke tempat
    Pi= jumlah  penduduk  di tempat i
    Pj = jumlah  penduduk  di tempat j
    Dij = jarak antara tempat i - tempat j

  3. Teori titik henti
    Teori   titik   henti   (breaking  point  theory)   merupakan   teori   yang   digunakan   untuk memperkirakan  lokasi strategis yang terletak di antara dua wilayah. Teori ini  dinyatakan dengan persamaan berikut.



    Keterangan:
    THAB= titik henti yang diukur dari kota yang jumlah  penduduknya  lebih sedikit
    JAB = jarak antara kota A dan B
    PA= jumlah  penduduk  kota yang lebih banyak
    PB= jumlah  penduduk  kota yang lebih sedikit

 

b. Faktor yang Memengaruhi lnteraksi Desa-Kota

Menurut Edward Ullman, ada tiga faktor yang memengaruhi interaksi desa-kota.

  1. Wilayah yang saling melengkapi  (regional complementarity).
  2. Kemudahan pemindahan  dalam ruang (spatial transfer-ability).
  3. Adanya kesempatan intervensi (intervening opportunity).

 

c. Dampak lnteraksi Desa-Kota

  1. Dampak positif
    • Tingkat  pengetahuan  penduduk  desa bertambah karena lebih  banyak sekolah  di pedesaan. Demikian  pengetahuan tentang pemilihan bibit unggul,  pemeliharaan keawetan atau kelestarian kesuburan tanah menjadi lebih diperhatikan. Pengetahuan mengenai usaha-usaha lain di bidang non-agraris lebih terbuka.
    • Mengurangi  ketertinggalan dan ketimpangan antara desa dan kota.
    • Terbukanya wilayah desa karena transportasi yang baik sehingga  hubungan sosial-ekonomi warga desa dan kota semakin baik.
    • Masuknya para ahli di berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan banyak bermanfaat bagi desa dalam melestarikan  lingkungan  pedesaan khususnya pencegahan  erosi dan pencarian sumber air bersih dan di bidang pengairan.
    • Teknologi  masuk desa menyebabkan diversifikasi  produk,  misalnya teknologi  tepat guna di bidang  pertanian  dan peternakan  meningkatkan  produksi  desa sehingga penghasilan penduduk  desa dapat bertambah.
    • Campur  tangan  pemerintah  pusat  dan  pemerintah  daerah  telah  meningkatkan kualitas dan kuantitas di bidang wiraswasta seperti kerajinan tangan, industri rumah tangga, peternak unggas dan sapi.
    • Pengetahuan    tentang    masalah   kependudukan     lebih    merata    di   pedesaan. Pengetahuan  dan  kesadaran  mempunyai   keluarga  kecil telah  mulai  diresapi  di banyak daerah pedesaan.
    • Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial di pedesaan.
  2. Dampak negatif
    • Penetrasi  kebudayaan  kota  ke desa yang  tidak  sesuai  dengan  kebudayaan  atau tradisi desa mengganggu  tata pergaulan atau seni budaya desa. Misalnya pengaruh budaya berpakaian yang ditiru oleh para wanita di daerah pedesaan.
    • Pengaruh   negatif  televisi,  misalnya  pengaruh  dari  film-film   barat  yang  berbau kejahatan dapat meningkatkan kriminalitas di pedesaan.
    • Terbukanya  kesempatan  kerja dan daya tarik kota  di berbagai bidang telah banyak menyerap pemuda desa sehingga desa mengalami  kekurangan tenaga potensial di bidang pertanian.
    • Motivasi  urbanisasi  tinggi  sehingga  terjadi  perluasan  kota  dan  masuknya  orang• orang kota ke daerah pedesaan yang telah banyak mengubah  tata guna lahan di pedesaan. Banyak daerah hijau telah  menjadi  daerah pemukiman  atau bangunan lainnya.
    • Munculnya slum area dan squatter area.